README FIRST

Thanks dah mau ngunjungin blog ini.
PASAL 1 Posting-posting di blog ini adalah orisinil dari penulis. Penulis akan menyertakan referensi apabila mengambil ide orang lain.
PASAL 2 Ada berbagai fitur di bagian sebelah kanan blog ini, salah satunya adalah katalog isi blog ini berdasarkan tipe tulisannya.
PASAL 3 Silahkan klik link "komentar" di bagian bawah setiap posting untuk kasih komen. Jangan lupa untuk kasih nama ya. Lalu, cek lagi beberapa hari kemudian, karena saya akan membalas komen Anda itu di tempat yang sama.

PASAL 4 Anda dapat mencari hal yang Anda inginkan dalam blog ini dengan mengetikkan keyword-nya di kotak search di pojok kiri atas dari halaman blog.

30 November 2009

Rokok Bikin Bego

Merokok telah menjadi kebiasaan sebagian besar laki-laki dan sebagian kecil perempuan di Indonesia. Konsumsi rokok setiap hari membuat perusahaan-perusahaan rokok menjadi raksaksa dan menjadi kaya sekaligus penyumbang besar pemasukkan negara. Namun, di sisi lain merokok telah membuat orang menjadi bodoh. Mengapa?

Sebelumnya, saya ingin membagi perokok menjadi 3 jenis:
1. mereka yang merokok di tempat-tempat yang dengan jelas memiliki larangan merokok
2. mereka yang merokok di tempat-tempat umum atau di dekat orang lain
3. mereka yang merokok di tempat khusus merokok atau di tempat dimana tidak ada orang lain

Untuk membela diri, para perokok sering kali mengatasnamakan HAM. Ini adalah alasan yang sangat egois karena HAM disini adalah HAM perokok itu sendiri tanpa memperhatikan HAM orang lain. Perokok jenis 2, misalnya, merasa memiliki kebebasan untuk merokok tanpa menghiraukan bahwa orang lain pun memiliki sebuah kebebasan, yaitu untuk menghirup udara bersih yg tidak terkontaminasi asap rokok. Lebih parah lagi, di negeri ini kita masih sering menjumpai perokok jenis 1 yang merasa bebas untuk merokok sekalipun di ruangan ber-AC misalnya. Masih soal hak, pertanyaan bagus untuk perokok jenis 3: "Apakah Anda memiliki hak untuk merokok?". Lihat jawabannya di: http://poenjagw.blogspot.com/2008/10/teoliberalisme.html

Di kebanyakan negara maju, perokok jenis 1 dan 2 ini dikenai sanksi hukum yang tegas karena telah menyangkal nilai kebebasan orang lain. Sejak tahun 2005, Jakarta telah mengeluarkan peraturan semacam ini. Tapi pada pelaksanaannya tidak berjalan karena tidak adanya ketegasan dalam penegakan peraturan ini.

Bicara soal kebebasan, sebenarnya bukan saja kebebasan orang lain yang direnggut dengan kebiasaan buruk ini (untuk jenis perokok 1 dan 2), namun juga kebebasan si perokok itu sendiri (untuk semua jenis perokok). Hampir semua perokok tidak kuasa untuk berhenti merokok karena sudah kecanduan. Itu berarti ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia telah menjadi "budak" rokok dan rokok telah menjadi "tuan" atasnya.

Rokok bukan sekedar barang konsumsi biasa. Ia adalah sebuah berhala di zaman modern ini. Seorang perokok yang mengaku beragama belum tentu merasa tidak tenang jika dalam satu hari ia tidak berdoa kepada Tuhan, tapi ia pasti merasa tidak tenang/nyaman jika dalam sehari saja belum merokok.

Dari segi kesehatan sudah jelas bahwa rokok itu adalah racun. Namun banyak perokok yang tidak percaya atau tidak peduli akan hal ini. Apakah mereka yang tidak percaya lebih pintar daripada para ahli yang telah melakukan riset dan menyatakan rokok itu buruk untuk kesehatan? Dan mereka yang tidak peduli adalah orang-orang yang berpikir jangka pendek karena memang akibat dari rokok itu biasanya terjadi untuk jangka panjang. Seseorang yang merokok tidak langsung mati seketika, tapi mati pelan-pelan dengan menimbun penyakit jantung atau kanker misalnya di beberapa tahun mendatang.

Zaman dulu, di desa-desa ada labeling "banci" terhadap para lelaki yang tidak merokok. Labeling ini masih ada meskipun tidak segencar dulu. Yang jelas, labeling seperti ini sangat tidak rasional. Merokok itu tidak keren sama sekali. Misalnya, karena merokok, baru bermain bola sekian menit saja sudah kepayahan. Yah........ itu sama sekali gak keren! :p

Intinya, merokok udah buat orang bego, merenggut kebebasan, dan merusak kesehatan. Hindari rokok, musnahkan, fatwakan haram! Mari menjadi orang Indonesia yang lebih sehat baik jasmani maupun rohaninya tanpa rokok.

11 November 2009

Emansipasi

Tren emansipasi perempuan menjadi populer pada abad ke-20 di negara-negara dunia ketiga. Bahkan di negara-negara maju, peran perempuan di berbagai bidang kehidupan semakin meningkat seiring begesernya waktu ke abad 21. Hillary Clinton, istri mantan Presiden Bill Clinton, sempat menjadi kandidat kuat calon presiden sebelum ia dikalahkan oleh rivalnya Barrack Obama. Meskipun kalah, ia telah menunjukkan bahwa seorang perempuan pun sebenarnya dapat menjadi pemimpin sebuah negara adidaya seperti AS. Sampai saat ini Presiden AS semuanya adalah laki-laki.Tren ini rupanya juga telah melanda Indonesia. Negeri yang umumnya menganut paham patriakal ini menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua di bawah laki-laki. Bahkan setelah era R.A. Kartini pun mindset orang-orang Indonesia masih saja demikian. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan juga akibat arus globalisasi, Indonesia agaknya telah meninggalkan pemikiran yang kolot ini. Buktinya, Megawati Soekarnoputri yang adalah seorang perempuan diberi kesempatan untuk menjadi Presiden ke-5 negeri ini.

Emansipasi ini telah menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Namun, emansipasi ini sering salah diartikan. Emansipasi bukan berarti perempuan menjadi sama dengan laki-laki. Hak secara politis dan derajatnya memang sama, namun keduanya tetap berbeda.

Pada kenyataannya, dalam kehidupan sehari-hari masih sering terjadi praktek "ladies first" yang merupakan norma kesopanan masyarakat namun sekaligus mengandung nilai diskriminasi terhadap perempuan. Nilai tersebut hendak mengatakan secara implisit bahwa perempuan sebagai makhluk yang lebih lemah. Secara pribadi, saya tidak menyalahkan praktek "ladies first" ini karena memang pada prinsipnya perempuan dan laki-laki itu berbeda.

Laki-laki dikaruniai kekuatan fisik yang lebih, dan dengan itu ia memiliki tanggung jawab yang lebih. Misalnya saja tanggung jawab untuk membela negara dalam bidang militer. Sekalipun tidak ada larangan bagi perempuan untuk masuk ketentaraan tapi toh tetap saja bidang itu masih sangat didominasi oleh laki-laki. Faktor perbedaan fisik sangat berpengaruh dalam hal ini. Seperti halnya juga perempuan dapat mengandung. Berarti perempuan memiliki tanggung jawab untuk melahirkan anak. Laki-laki tidak mampu melakukan hal ini dengan cara apapun juga.

Laki-laki dan perempuan itu berbeda tetapi bukan untuk dibeda-bedakan melainkan untuk hidup berdampingan dan saling melengkapi. Itulah inti dari hidup bersosial.

01 November 2009

Pintar Boleh Sombong?

Seorang anak remaja (sebut saja Mawar) memiliki bakat musik yang luar biasa. Di usianya yang masih belia ia sangat piawai memainkan alat musik gitar. Jika teman-teman seangkatannya yang belajar bersama-sama dengan dia membutuhkan waktu 3-4 pertemuan untuk menguasai satu buah lagu klasik, Mawar hanya butuh beberapa jam saja. Guru Mawar yakin anaknya kelak bisa menjadi seorang maestro gitar kelas dunia. Namun masalahnya, kesombongan merasuki diri Mawar, hal yang biasa terjadi pada orang yang memiliki talenta lebih.

Setiap orang dikaruniai oleh Yang Maha Kuasa kepintaran dalam bentuk yang berbeda-beda. Namun, orang seringkali menyebut orang lain pintar jika orang itu memiliki kepintaran tertentu yang populer. Misalnya orang yang pintar berhitung dikategorikan sebagai orang pintar, sedangkan orang yang pintar dalam sepakbola, tidak dibilang pintar.Menyadari perbedaan jenis kepintaran yang dimiliki setiap orang, seharusnya tidak orang yang menganggap dirinya lebih pintar daripada orang lain. Karena pada kenyataannya, ia tidak lebih tetapi hanya memiliki kepintaran yang jenisnya berbeda dari orang lain.

Memang, pada kenyataannya ada segelintir orang yang dikaruniai kepintaran dalam hampir segala hal. Namun, tetap saja tidak ada alasan bagi orang itu untuk menyombongkan diri. Di atas langit masih ada langit. Dan sekalipun ia berada di langit teratas, ia harus sadar bahwa segala kepintarannya itu adalah pemberian cuma-cuma dari Sang Pencipta. Sudah menjadi tanggung jawab orang itu untuk mengembangkan talenta yang diberikan oleh-Nya . Jadi Mawar, kamu tidak berhak untuk menjadi sombong!

25 Oktober 2009

Passive

(Posting ini khusus dibuat untuk forum English kelas X Sekolah Kanaan Tangerang, namun umum dipersilahkan untuk turut serta)

BAGIAN 1 - DASAR
Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan atau perbuatan. Dalam Bahasa Inggris, kalimat pasif (passive) memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:

(1) Subjeknya merupakan objek dari bentuk aktif
(2) Ditambah to be
(3) Verb-nya adalah V3

Contoh:

(Present Simple Tense)
Active: Budi eats the apple
Passive: The apple is eaten by Budi

(Present Continuous Tense)
Active: Budi is eating the apple
Passive: The apple is being eaten by Budi

(Present Perfect Tense)
Active: Budi has eaten the apple
Passive: The apple has been eaten by Budi

(Past Simple Tense)
Active: Budi ate the apple
Passive: The apple was eaten by Budi

(Past Continuous Tense)
Active: Budi was eating the apple
Passive: The apple was being eaten by Budi

(Past Perfect Tense)
Active: Budi had eaten the apple
Passive: The apple had been eaten by Budi

(Future Tense)
Active: Budi will eat the apple
Passive: The apple will be eaten by Budi

(Future Tense -be going to-)
Active: Budi is going to eat the apple
Passive: The apple is going to be eaten by Budi

(Future Perfect Tense)
Active: Budi would have eaten the apple
Passive: The apple would have been eaten by Budi

BAGIAN 2 - (IN)TRANSITIVE

Tidak semua kalimat dapat diubah menjadi kalimat pasif. Syarat-syarat sebuah kalimat dapat diubah menjadi passive adalah:

(1) Kalimat itu memiliki Verb
(2) Verb dalam kalimat itu adalah transitive verb
(3) Dengan demikian, kalimat itu memiliki objek

Kalimat yang tidak memiliki/ tidak memerlukan objek disebut dengan intransitive. Contoh kalimat-kalimat intransitive:

- She cries loudly in front of me.
- The athlete runs 40 km a day.
- I always go to school on time.

Kalimat-kalimat ini tidak dapat diubah ke dalam bentuk passive.

BAGIAN 3 - NEGATIVES AND INTEROGATIVES

Kalimat negatif dan interogatif (pertanyaan) pun dapat diubah menjadi passive asalkan memenuhi syarat-syarat yang telah dibahas di bagian sebelumnya.

Contoh:

(Negative)
Active: Budi does not eat the apple
Passive: The apple is not eaten by Budi

(Interogative)
Active: Does Budi eat the apple?
Passive: Is the apple eaten by Budi?

BAGIAN 4 - DOUBLE OBJECTS

Beberapa kalimat memiliki object ganda. Contohnya:

Mom gives me some money.

Object 1= me
Object 2= some money

Kalimat seperti ini dapat diubah menjadi passive dengan 2 cara:
1. object 1 di depan = I am given some money by Mom.
2. object 2 di depan = Some money were given to me by Mom.

***

Silahkan gunakan pilihan "komentar" apabila ada yang ingin ditanyakan, dan silahkan mencek kembali "komentar" beberapa saat kemudian untuk melihat balasan jawaban Anda.

05 Oktober 2009

Guru

Memperingati Hari Guru Internasional, wajah pendidikan bangsa kita masih diwarnai dengan berita-berita akan buruknya kesejahteraan maupun kualitas guru di Indonesia. Kebutuhan akan guru berkualitas memang sangat mendesak mengingat agenda utama bangsa kita saat ini adalah pendidikan.

Namun seperti apakah guru yang berkualitas itu? Apakah dengan dinaikkan kesejahteraannya lantas para guru menjadi berkualitas dengan sendirinya? Berikut adalah aspek-aspek pokok yang perlu diperhatikan untuk menjadi guru yang berkualitas:

1. Murid
Perlu diingat bahwa guru tidak mengajar materi. Guru mengajarkan materi, tetapi guru mengajar murid. Hal ini sering dilupakan oleh para guru, hanya mengajar materi sampai tuntas tanpa tahu apakah siswanya benar-benar mempelajari sesuatu atau tidak. Pendidikan seharusnya bukan lagi teacher-centered tetapi student-centered. Bentuk nyatanya yaitu tidak mencekoki murid melainkan membiarkan murid lebih aktif untuk mempelajari sesuatu.

2. Peraturan
Guru juga berperan sebagai penerap peraturan di dalam kelas. Peraturan yang dibuat oleh guru harus masuk akal dan dapat menjelaskan alasan kenapa peraturan itu dibuat. Peraturan pun harus selalu dievaluasi efektivitas dan efesiensinya secara berkala. Dalam hal ini guru harus terlepas dari belenggu kekolotan. Guru harus berani menerima hal-hal baru dengan kritis.

3. Materi
Guru harus menguasai materi. Tetapi tidak semua orang yang menguasai materi dapat menjadi guru yang berkualitas. Alasannya karena guru harus dapat menjelaskan materi tersebut sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh siswa. Relevansi dengan kehidupan nyata siswa harus ditekankan agar siswa tahu apa yang sedang mereka pelajari dan kenapa mereka mempelajari itu. Untuk itu, guru harus menyelami dunia siswa, tidak terperangkap di dunianya sendiri. Misalnya, guru harus tau kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan oleh siswa, perkembangan-perkembangan teknologi/apapun yang sedang marak di kalangan siswa, dsb. Istilah gampangnya adalah menjadi guru yang "gaul" dengan dunia siswa.

31 Agustus 2009

Hemat Kertas


Anda tahu mengapa kita harus menghemat kertas?
Jawabannya simpel: kertas dibuat dari pohon; semakin banyak kertas dibuat, semakin banyak pohon yang ditebang. Semakin sedikit pohon yang ada, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor mengancam, begitu pula global warming akan semaikn mencekam.

Saya mau tekankan pada Anda para pelajar khususnya, kalo sebenarnya kita BISA melakukan sesuatu yang konkret. Anda sering jalan-jalan ke mal? Lakukan itu. Anda akan menemukan banyak kertas yang dibagikan secara gratis, yaitu kertas-kertas brosur dan iklan. Ambil semua brosur yang ditawarkan, lalu pulanglah (dengan damai), steples semua brosur itu. Baliklah kumpulan kertas itu, maka Anda akan menyadari bahwa bagian belakang brosur itu merupakan lahan kosong yang dapat digunakan untuk menorehkan tinta. Akhirnya, terciptalah buku catatan untuk keperluan sekolah/kuliah Anda yang Anda dapatkan secara cuma-cuma.

Kelihatan sepele, akan tetapi bayangkan jika setiap siswa dan mahasiswa setiap harinya mengumpulkan kertas brosur dan menggunakannya sebagai catatan belajar mereka, berapa batang pohon yang dapat diselamatkan?

Sekarang ini bukan zamannya lagi untuk gengsi tapi zaman untuk menjadi kreatif. Mari kita selamatkan bumi kita tercinta!

07 Agustus 2009

Sinyal Tubuh

Sudah sepatutnya kita bersyukur pada Yang Kuasa karena kita telah diberikan tubuh yang sangat amat baik. Pernahkah Anda berpikir akan kerja jantung yang terus memompa darah ke seluruh tubuh? Atau bahkan pada kerja otak yang sangat responsif terhadap rangsangan-rangsangan yang ada? Tanyalah pada ilmuwan, pasti mereka tak menyangkal bahwa organ-organ tubuh kita adalah alat yang super canggih.

Sinyal tubuh adalah salah satu bukti kecanggihan fungsi tubuh kita. Sinyal itu dapat berupa rasa sakit. Rasa sakit seolah memberi tahu kita bahwa ada hal yang tidak beres dalam tubuh, baik itu ada virus maupun gangguan yang lainnya. Beruntunglah kita dapat merasakan sakit, karena jika tidak kita tidak tahu bahwa ada yang salah dalam tubuh kita sehingga kita tidak akan mengambil tindakan beristirahat ataupun mengobatinya. Jadi, tindakan yang seharusnya kita ambil apabila kita merasakan sakit adalah mencari tahu lalu menyembuhkan akar penyebab rasa sakit itu, bukan sekedar menghilangkan rasa sakit itu.

Mengantuk adalah bentuk sinyal tubuh yang lain. Dengan rasa kantuk, seakan tubuh mau berkata pada kita bahwa sudah waktunya beristirahat. Organ-organ tubuh kita butuh istirahat untuk mengembalikan kinerjanya. Kurang beristirahat dapat merusak/mematikan organ tubuh. Sering bergadang, misalnya, berbahaya bagi jantung; karena ketika jantung seharusnya beristirahat, ia dipaksa terus bekerja. Seringkali kita 'membunuh' sinyal tubuh yang satu ini. Dengan berbagai cara (kopi atau obat anti kantuk) kita mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk. Seperti yang belakangan ini sedang heboh di tanah air, yaitu tentang kematian Mbah Surip yang dihubung-hubungkan dengan konsumsi kopinya yang berlebihan. Padahal, rasa kantuk seharusnya bukan untuk dihilangkan, tetapi untuk diresponi positif sehingga kita mengistirahatkan tubuh kita.

Tubuh telah kita diperlengkapi dengan berbagai sinyal. Marilah kita responi sinyal itu dengan mengambil tindakan-tindakan yang tepat demi kebaikan tubuh kita sendiri. Jika bukan Anda sendiri yang menyanyangi tubuh Anda, siapa lagi?