README FIRST

Jangan heran apabila dalam blog ini ada ide di sebuah posting yang bertentangan dengan posting yang lain. Semua posting ini ditulis oleh orang yang sama yaitu saya. Tetapi posting yang ditulis tahun 2013 ke depan ditulis oleh saya yang sudah tercerahkan oleh berbagai pengalaman hidup. Dari diliput oleh koran luar negeri, kehilangan teman yang tewas tertembak dalam kerusuhan Ambon 2011, sampai melancong ke belahan lain dunia ini, semuanya itu membentuk sebuah pemikiran yang berbeda dari sebelumnya.

25 Februari 2009

Gondrong Students (part 6)

SMA Kolese De Britto merupakan salah satu contoh sekolah yang mengijinkan siswanya (yang seluruhnya adalah laki-laki) untuk memiliki rambut gondrong. Pendidikan sekolah yang bermarkas di Yogyakarta ini berlandaskan Ad Maiorem Dei Gloriam, yang artinya "demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar". Di sekolah bercorak Katholik tersebut, para siswa diberikan kebebasan namun tetap dituntut untuk bertanggung jawab. Hal ini tampak dalam diberikannya kebebasan bagi para siswa untuk mengenakan baju bebas (di hari-hari tertentu) dan berambut panjang (tanpa batas), namun di balik kebebasan itu, kedisiplinan dalam bidang pengajaran sangat diperhatikan, misalnya dengan penetapan standar nilai yang tinggi. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/SMA_Kolese_De_Britto atau di http://www.debritto-yog.sch.id/


SMA Kolese De Britto adalah contoh sekolah yang sudah terbuka matanya akan kebebasan siswa berambut gondrong. Kapankah sekolah-sekolah yang lain akan menyusul insyaf? Untuk sekolah-sekolah tersebut saya memiliki beberapa pesan dalam masalah ini yang akan saya tuliskan pada posting Gondrong Students berikutnya sekaligus merupakan part yang terakhir.
(Sebenarnya, saya mendapat informasi bahwa masih ada beberapa sekolah lain di Indonesia yang mengijinkan siswanya berambut gondrong, namun sayangnya, saya tidak mendapatkan alamat web sekolah-sekolah tersebut. Oleh karena itu, apabila Anda mengetahuinya, tolong beri tahu saya di kolom komentar Anda.)
***

28 Januari 2009

My other nameS

Jika pada posting saya bulan yang lalu saya sudah membicarakan tentang beberapa nama saya yang dapat diutak-atik, sekarang saya akan membahas tentang beberapa nama saya yang lain yang saya buat sendiri.

1. Doehwie
Ini cuma nama "Dwi" yang dibengkok-bengkokan. Kebanyakan dipakai untuk tertulis saja.

2. De Santos
Nama yang berbau Latin ini adalah pelesetan dari nama asli saya; Dwi SANTOSa. Baru-baru ini saja tahu arti nama ini yang sebenarnya, yaitu "De"= dari (from/of), "Santos"= orang kudus (Saints). Sepertinya memang agak berat untuk menyandang nama ini........

3. Li Shui Liong
Orang tua saya tidak memberi nama Tionghoa pada saya, maka ketika saya genap berumur 18 th, saya membuat nama Tionghoa saya sendiri. Ayah saya bermarga Li, sedangkan ibu saya Tan. Jadi, kata "Li" di depan nama ini adalah marga saya. Sedangkan arti "Shui" adalah tidur dan "Liong" adalah naga. Jadi kalau digabung, nama ini berarti "naga tidur" (sleeping dragon). Saya memilih nama ini karena pada saat itu saya sedang membaca novel sejarah Sam Kok dimana tokoh Zhuge Liang yang saya kagumi memiliki julukan ini.
Memiliki nama "Naga Tidur" bukan berarti bahwa saya cuma akan "tidur" selamanya, tapi ada makna yang dalam di balik hal itu yang masih saya rahasiakan sampai saat ini.........

4. ?
Mungkin seiring berjalannya waktu, my other names akan bertambah lagi. Namun William Shakespeare pernah berkata: "Apalah arti sebuah nama?"

Menurut Anda, apakah arti sebuah nama?

02 Desember 2008

Gondrong Students (part 5)



Dari sejarah, kita mengetahui adanya Magnacarta yang dianggap sebagai konstitusi pertama di Eropa, yaitu hukum tertulis yang sudah pasti isinya yang dimaksudkan agar raja tidak seenaknya membuat dan mengubah hukum untuk rakyatnya. Dari sini jelas terlihat bahwa peraturan atau hukum dibuat demi kebaikan rakyat atau manusia sendiri. Oleh karena itu, setiap peraturan yang ada harus selalu dievaluasi untuk mengetahui apakah peraturan itu masih relevan atau sudah tidak mendatangkan kebaikan lagi bagi manusia. Apabila hal ini diabaikan, manusia akan hidup untuk peraturan bukannya peraturan untuk manusia.


Peraturan no gondrong students di dunia pendidikan pun juga mestinya segera dievaluasi. Selain banyak cacat cela yang dimilikinya (lih. bagian2 sebelumnya), peraturan ini juga sudah melecehkan keadilan. Peraturan ini jelas diskriminatif dan tidak menerima adanya perbedaan. Namun saya juga tidak mau terjebak ke arah yang ekstrem. Rambut gondrong adalah pilihan, bagi mereka yang lebih menyukai rambut pendek, silahkan berambut pendek. Seharusnya sekolah juga berpikir bahwa rambut pendek adalah pilihan, bagi mereka yang menganggap dirinya lebih pantas berambut gondrong, silahkan. Gitu aja koq repot!


Saya sangat gembira dengan beberapa sekolah yang telah menyadari hal ini dan tidak mempersoalkan masalah kegondrongan rambut siswanya. Beberapa sekolah itu akan saya tampilkan di artikel mendatang.


....to be continued...
.
.

Birthday Bullying


Hari ulang tahun adalah hari yang amat spesial yang dimiliki oleh setiap orang di muka bumi ini. Betapa tidak, karena selain menandakan bertambahnya umur, hari itu merupakan hari seseorang dilahirkan dan menghembuskan nafas yang pertama kali. Ulang tahun identik dengan kado, kue, lilin, dsb. Namun khususnya di kalangan anak muda, ulang tahun sangat identik dengan bullying. Anda pasti pernah melihat atau setidaknya mengetahui seorang anak muda yang sedang berulang tahun disiram oleh temen-temannya. Bahkan terkadang lebih dari sekedar menyiram dengan air biasa. Hal seperti inilah yang saya namakan Birthday Bullying.Hal ini sangat serius karena beberapa tindakan bullying itu dapat dikategorikan sebagai tindak kekerasan fisik atau pelecehan.
Sebenarnya saya membahas topik ini karena hari ini adalah hari ulang tahun saya. Saya akan menceritakan pengalaman saya tepat 2 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kelas 3 SMA. Teman-teman saya mengancam akan menyeburkan saya ke kali di depan sekolah ketika pulang. Untungnya saya selamat dari bullying itu karena saya mengambil inisiatif minggat dari sekolah ketika jam istirahat.
Alasan para pelaku memang kedengarannya baik, yaitu untuk memberikan kesan yang mendalam pada temannya yang sedang berulang tahun. Tapi pertanyaannya kesan yang seperti apa? Jika ingin memberi kesan, kita bisa memberikan surprise berupa hadiah atau apapun sehingga kesan yang ditinggalkan itu adalah positif. Jangan karena alasan seperti itu, orang yang sedang berulang tahun dapat diperlakukan seenaknya tanpa mengindahkan hak-hak orang itu.
Jadi, apakah Anda setuju dengan Birthday Bullying? Jika tidak, pikirkanlah apa yang harus Anda perbuat untuk menghapuskan budaya yang sudah mengakar ini. Namun jika Anda setuju, Anda harus tetap berpikir bahwa orang yang berulang tahun sama sekali tidak kehilangan hak-haknya seperti ketika ia sedang tidak berulang tahun.Silahkan beri komentar Anda.

24 Oktober 2008

Gondrong Students (part 4)

Kali ini saya akan membandingkan isu rambut gondrong dengan isu lain yang juga dilarang dalam dunia pendidikan. Yang pertama adalah merokok. Saya rasa hampir semua sekolah di tanah air melarang siswanya merokok. Alasannya jelas, yaitu karena rokok terbukti secara medis merusak tubuh si perokok (dan orang lain yang menjadi perokok pasif). Jadi, tindakan merokok adalah tindakan merusak diri, sedangkan rambut gondrong sama sekali tidak bersifat merusak. Sedih kenyataan yang kita hadapi bahwa beberapa sekolah hanya melarang siswanya untuk tidak merokok pada saat di sekolah bukannya melarang mereka untuk tidak menjadi perokok. Begitu keluar sekolah, dalam waktu kurang dari 10 menit, mereka bisa bebas merokok. Sedangkan jika sekolah melarang siswa gondrong di dalam lingkungan sekolah otomatis di luar pun ia tidak akan bisa gondrong, karena rambutnya yang dieksekusi di sekolah tak akan tumbuh dalam waktu begitu cepat saat ia sedang tak berada di sekolah.
Yang berikut adalah isu tindik (piercing). Tindik dapat mengambil tempat di telinga, hidung, dagu, maupun lidah! Menindik itu rasanya sakit, jadi umumnya anak muda dianggap semakin berani jika tindikan di tubuhnya semakin banyak. Ini juga sebuah tindakan yang destruktif terhadap tubuh. Penganut paham Teoliberalis seharusnya sangat menentang hal ini. Pendeknya, tindik adalah tindakan memodifikasi tubuh yang dilakukan oleh manusia, lain halnya dengan isu rambut gondrong yang terjadi secara alami.
Isu yang paling dekat dengan rambut gondrong adalah isu mencat rambut. Saya berusaha meyakinkan Anda bahwa mencat rambut adalah tindakan yang jauh lebih "haram" dibandingkan menggondrongkan rambut. Pasalnya, seperti yang telah saya bilang, bahwa rambut gondrong itu terjadi secara alami, sedangkan mencat rambut memiliki unsur buatan dan memiliki indikasi ketidakpuasan terhadap warna rambut asli pemberiaan Sang Pencipta. Jadi, saya sangat setuju apa yang telah diterapkan oleh banyak sekolah saat ini tentang larangan mencat rambut. Ini dapat mengajarkan siswa untuk dapat menerima diri. Banyak orang Asia yang mencat rambut mereka dengan warna pirang, warna rambut orang bule. Padahal banyak orang bule yang iri dengan our lovely Asian black hair.
Dari ketiga perbandingan di atas, hal yang mau saya tekankan adalah bahwa isu rambut gondrong tidak dapat disamakan dengan isu-isu yang lain yang sering dijadikan oleh pihak oposisi alasan untuk melarang siswa berambut gondrong. Setiap isu harus dilihat secara khusus. Begitu juga alasan pelarangannya (dalam dunia pendidikan khususnya) harus selalu dikritisi.
Berikutnya saya akan membahas tentang peraturan dan pilihan berambut gondrong.

- to be continued...-
.
.