Hari ulang tahun adalah hari yang amat spesial yang dimiliki oleh setiap orang di muka bumi ini. Betapa tidak, karena selain menandakan bertambahnya umur, hari itu merupakan hari seseorang dilahirkan dan menghembuskan nafas yang pertama kali. Ulang tahun identik dengan kado, kue, lilin, dsb. Namun khususnya di kalangan anak muda, ulang tahun sangat identik dengan bullying. Anda pasti pernah melihat atau setidaknya mengetahui seorang anak muda yang sedang berulang tahun disiram oleh temen-temannya. Bahkan terkadang lebih dari sekedar menyiram dengan air biasa. Hal seperti inilah yang saya namakan Birthday Bullying.Hal ini sangat serius karena beberapa tindakan bullying itu dapat dikategorikan sebagai tindak kekerasan fisik atau pelecehan.
Sebenarnya saya membahas topik ini karena hari ini adalah hari ulang tahun saya. Saya akan menceritakan pengalaman saya tepat 2 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kelas 3 SMA. Teman-teman saya mengancam akan menyeburkan saya ke kali di depan sekolah ketika pulang. Untungnya saya selamat dari bullying itu karena saya mengambil inisiatif minggat dari sekolah ketika jam istirahat.
Alasan para pelaku memang kedengarannya baik, yaitu untuk memberikan kesan yang mendalam pada temannya yang sedang berulang tahun. Tapi pertanyaannya kesan yang seperti apa? Jika ingin memberi kesan, kita bisa memberikan surprise berupa hadiah atau apapun sehingga kesan yang ditinggalkan itu adalah positif. Jangan karena alasan seperti itu, orang yang sedang berulang tahun dapat diperlakukan seenaknya tanpa mengindahkan hak-hak orang itu.
Jadi, apakah Anda setuju dengan Birthday Bullying? Jika tidak, pikirkanlah apa yang harus Anda perbuat untuk menghapuskan budaya yang sudah mengakar ini. Namun jika Anda setuju, Anda harus tetap berpikir bahwa orang yang berulang tahun sama sekali tidak kehilangan hak-haknya seperti ketika ia sedang tidak berulang tahun.Silahkan beri komentar Anda.







Ada fakta yang mau saya ungkapkan dibalik event akbar empat tahunan ini, yang pasti yang ada sangkut pautnya dengan saya dong (wong ini All about me koq...). Tahun 2004 silam, saya baru saya hijrah ke Purwokerto. Saat itu hujan rintik-rintik, eh enggak, maksudnya saat itu di tempat yang baru saya belum ada kerjaan (karena lagi liburan sekolah), jadi sehari-hari hanya jadi pengacara di rumah (ngontrak). Iseng-iseng, sebenarnya karena tergiur oleh bonus yang ditawarkan olehnya, saya membaca majalah Soccer edisi khusus Euro 2004. Di situ sama sekali tidak diprediksikan Yunani sebagai juara Euro 2004. Namun entah mengapa, ada perasaan yang mencekam hati saya. Saya merasakan warna BIRU yang identik dengan kostum dan bendera Yunani. Saat itu juga saya keceplosan bicara, "Yunani bakal juara".